Suatu hari ... terjadi diskusi antara dua manusia (yang satu gak tahu makanya tanya), dan yang satunya lagi emang beneran senior urusan speleologi... :-) Tanya: ... lalu mereka (masyarakat, red) bilang, mereka gak bisa bernafas, saya kemudian berasumsi, bahwa goa tersebut memang rendah oksigen, atau memang karena reaksi kimia tertentu yang terjadi pada batuan, menyebabkan pemisahan CO / CO2 dari/pada kapur menjadi gas?
Jawab: Mungkin memang minim O2 karena memang volume udaranya lebih kecil dibanding volume lorong. Tapi bisa juga karena dalam udara, prosentase O2 yang sekitar 30% tidak terpenuhi karena terisi oleh gas lain yang mungkin beracun. Misal CO2 karena pelepasan/ penguapan CO2 dari asam karbonat H2CO3 saat terbentuknya ornamen, nitrogen yang terbawa air perkolasi dari bintil akar tumbuhan, CO dari hasil peledakan dinamit dan kebakaran, atau gas-gas lain. Yang belakangan ini yang paling bahaya, karena tidak berbau dan reaksinya sangat cepat. Maklum CO kan gas yag tidak stabil, jadi mudah sekali terikat dalam darah.
Dalam sebuah teori di speleometeorologi disebutkan adanya pelepasan O2 dari air oleh aliran air atau di terjunan. Tapi di banyak kasus di Gunung Kidul, kami menemukan lorong-lorong yang minus O2 justru di lorong yang beraliran aktif. Minusnya O2 juga bisa terjadi akibat jumlah kunjungan penelusur gua yang over capacity, atau bahkan oleh komunitas kelelawar dan walet.Itu semua bisa terjadi jika proses pertukaran udara dengan dunia luar lebih lambat atau malah tidak terjadi.Di dua gua di sebelah utara kantor kecamatan Panggang, saya (Sunu, red) pernah mengalami kejadian-kejadian yang enggak enak akibat gas beracun dan O2 tipis. Oleh: Ega Gunawan |
|
| Users' Comments |
|
Average user rating
(0 vote)
|
|
|