Skip to content

Subterra - Indonesian Community for Karst, Cave dan Speleologi

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size default color light color
You're here:
Penggambaran Peta dan Tahapannya
Tuesday, 24 July 2007
 

Written by Sunu Widjanarko,

Views : 3453    

Favoured : 107

Published in : , Survey dan Pemetaan

Tags : survey, gambar, skala


Akhirnya surveyor siap memulai penggambaran. Sebaiknya surveyor memiliki gambaran yang baik mengenai semua sistem ukuran. Jika dia tidak memplot hasil dengan kasar sebagaimana kemajuan survey (and he should have) maka hal ini dapat diperoleh dari pengujian koordinat stasiun. Hal pertama yang harus dikerjakan adalah mengatur skala survey untuk penggambaran. Sebagai aturan, survey dengan tujuan umum harus digambar sekurangnya dengan skala 1/250, jika tidak akan terlalu kecil untuk dapat menampilkan detail. Untuk sistem yang lebih besar, skala penggambarannya ditujukan, apakah menjadi dimensi perkecualian atau menjadi beberapa lembar. Surveyor harus menyesuaikan skala dan ukuran lembar. Akan tetapi berapapun skala yang dipilih, harus cukup besar untuk menampilkan lorong dengan besar, bahkan jika beberapa detail masih harus dihilangkan. Untuk kenyamanan pemakai lebih baik membatasi ukuran print akhir adalah A0 (1,189m x 0,81m), kapanpun juga. Hal ini mungkin, jika diperlukan, untuk mengatur lembar lebih besar pada waktu tampilan penggambaran dan kemudian memperkecil penggambaran dengan fotografi sebelum dicetak. Skala yang dipilih untuk print akhir harus sesuai salah satu pilihan pada Tabel.

Survey dengan akurasi rendah, misalnya survey magnetik kasar (grade 3) dapat digambar langsung dari pembacaan instrumen yang dikoreksi, tetapi harus dikerjakan sesudah jarak horisontal antar stasiun dihitung sebagaimana dijelaskan diawal. Metode plotting ini cenderung akan mengakumulasi kesalahan, dan untuk itu seharusnya tidak digunakan plotting stasiun pada survey untuk sistem yang besar bahkan jika untuk survey grade 3. Survey yang akurat (grade 5 atau 6) tidak boleh diplot dengan metode ini, tetapi dengan koordinat stasiun hasil perhitungan. Pada dua buah kasus, kebutuhan pertama adalah ketepatan kisi-kisi pada yang mana menjadi dasar survey.

Jika surveyor menggunakan mesin gambar atau papan gambar besar dan terdapat kotak-kotak persegi, maka konstruksi demikian kisi-kisinya akan relatif lurus. Jika tidak, maka metode yang paling memuaskan adalah menggunakan balok kompas untuk membuat busur yang dapat dipakai untuk konstruksi ini - metode ini dijelaskan pada banyak buku standar untuk survey.

Jika protaktor dipergunakan untuk membuat grid maka memerlukan kehati-hatian agar hasilnya akurat. Karena keakuratan survey tergantung pada grid, maka harus berhati-hati pada penggambarannya. Lebih baik dicek dengan pengukuran diagonal (yang mana seharusnya sama panjang) sebelum survey diplot. Metode alternatif dari perolehan grid adalah membeli yang kertas grafik dengan kualitas bagus. Kertas yang tergulung lama atau sudah pernah dicetak tidak layak dipakai, perubahan dimensi dan kesalahan sebesar 3% sering ditemui. Untuk itu jika anda membeli kertas grafik, pertama periksa dahulu keakuratannya.

Plotting survey akurasi rendah


Diharapkan surveyor memiliki gambaran umum mengenai gua yang telah disurvey sehingga dia dapat meletekkan stasiun pertama pada grid tertentu; sebagai contoh; jika sebuah gua secara umum mengarah ke utara dan kemudian ke timur dari awal, dia harus meletakkan stasiun pertamanya di sudut kiri bawah. Jika surveyor tidak mengetahui perkiraan layoutnya dimana dia harus membuat perkiraan dan diharap harus dengan meningkatkan grid tersebut belakangan.

Setelah posisi stasiun pertama ditandai, perlu untuk mengambar garis utara-selatan melalui titik ini. Dapat ditransverkan dari garis U-S terdekat dengan pusat pada posisi stasiun pertama garis grid E-W menggunakan busur set. Protaktor yang digunakan, lebih baik dengan bentuk bundar dengan tanda 0º sampai 360º, ditempatkan sepanjang garis U-S dengan pusat pada posisi stasiun pertama dan dengan 0º diarahkan ke utara.

Arah terkoreksi dari stasiun kedua dari stasiun pertama ditandai sesuai dengan protaktor. Setelah protaktor diangkat, garis digambar dengan pensil dari stasiun pertama sepanjang arah yang telah diberi tanda. Posisi stasiun kedua terletak segaris pada jarak sama dengan jarak datar antar dua stasiun pada skala yang telah dipilih, salah satu dari; pengukuran dengan scala atau hasil dari set pembagi terhadap skala. Setelah stasiun kedua ditandai, surveyor mengulangi proses untuk mendapatkan posisi stasiun ketiga, dan begitu seterusnya sampai semua stasiun survey dapat diplot.

Pekerjaan ini sedapat mungkin berhati-hati, terutama jika survey digambar dengan skala kecil, sebab kesalahan penandaan pada satu stasiun membawa pengaruh pada stasiun berikutnya. (Hasil yang lebih baik diperoleh dengan metode ploting menggunakan busur set daripada menggunakan protaktor). Setelah posisi diplot, langkah beriktunya adalah mengisi detail dari permukaan bentuk lorong, dll; dijelaskan dibelakang.

Ploting menggunakan stasiun koordinat


Survey akurat harus diplot menggunakan koordinat tiap stasiun hasil penghitungan yang dijelaskan pada bab sebelumnya. Metode ini digunakan untuk menghilangkan bahaya akibat kesalahan ploting akumulasi yang ditimbulkan protaktor dan penggaris seperti dijelaskan di atas. Banyak surveyor yang lebih suka menggunakan metode koordinat sekalipun untuk survey kasar, dan ini seharusnya digunakan jika survey kasar dilaksanakan pada sistem yang besar. Lagipula kebutuhan utamanya adalah keakuratan grid. Dan sebelumya timbul masalah mengenai aplikasi grid dan kertas grafik.

Setelah memilik grid, kemudian ditandai satuannya dalam meter ke arah timur dan utara dari origin (tidak perlu dimunculkan pada lembar) sesuai dengan skala yang dipilih. Kemudian menggunakan hasil hitungan dan perataan koordinat yang telah dimiliki, tiap stasiun survey diplot pada grid dengan pensil sesuai posisi berdasarkan hasil hitungan, dengan garis yang menghubungkan stasiun satu dengan stasiun berikutnya sepanjang lintasan. Ini sebagai centre line dari tampak atas (plan view). Metode ploting posisi stasiun yang paling gampang adalah dengan membuat sebuah roamer potongan kartu keras yang memenuhi.

Dua tepi kertas ditandai pada sudut kanan atas dengan skala yang sama digunakan pada plotting survey. Skalanya harus sama dengan interval antar garis grid, seperti pada Gb 11. Roamer kemudian digunakan untuk pengukuran koordinat stasiun dari garis grid yang paling dekat seperti pada gambar. Tiap sisi roamer yang berlawanan juga ditandai dengan skala, ini memudahkan untuk mengecek bahwa roamer menyentuh sisi-sisinya.

<img src="http://www.subterra.or.id/images/uploads/roamer.jpg" border="1" alt="image" width="400" height="338" />
Gambar Roamer: cara penggunaan

Detail


Kemudian detail bentuk lorong digambar berdasar informasi yang diperoleh dalam bentuk ukuran, skets, dan catatan. Pada waktu yang sama, skets dipakai sebagai check-ing bahwa tidak ada kesalahan yang terjadi saat ploting centre line. Jika centre line yang terlihat adalah berbelok ke kiri tetapi skets ke kanan, pasti ada yang salah. Karena permukaan lorong gua jauh dari keteraturan maka surveyor membutuhkan banyak sekali akal untuk mengatasi situasi komplek sehingga dapat menggambarkan apa yang terjadi. Irwin (1970) telah membuat beberapa hal yang sangat berguna sehingga harus dipelajari. Apabila terjadi gambar yang ruwet, lebih baik digambarkan dalam sebuah insert dengan skala yang lebih besar, atau untuk menampilkan lorong gua yang bertingkat secara terpisah. Tetapi harus dibuat dengan jelas mengenai apa yang telah dikerjakan surveyor dan sebisa mungkin menghemat penggunaan teknik ini.

Ada suatu usulan, dalam melukiskan situasi detail yang komplek, surveyor agar menggambar beberapa penawaran metode untuk memperoleh bagaimana reaksi caver yang lainnya. Hal yang perlu diingat jangan mencoba menampilkan seluruhnya pada plan view. Suatu bentukan mungkin akan menjadi jelas jika ditampilkan dalam bentuk section (lihat bawah), dan untuk itu sebaiknya tidak ditampilkan pada plan jika mereka bingung atau kacau dalam penggambaran. Informasi yang berguna seharusnya didistribusikan pada pandangan yang berbeda. Sebuah studi terdahulu memperlihatkan bahwa seringkali plan view sulit dibaca karena usaha untuk menampilkan segalanya semirip mungkin; penghilangan banyak detail akan menghasilkan gambar yang lebih jelas tanpa harus kehilangan informasi.

Biasanya, informasi yang diberikan plan view hanya lebar lorong pada level mata penelusur, rintangan besar seperti pitch, aliran aktif, dan detail lantai umum lainnya jika skala cukup besar dan jenis-jenis lain sepanjang gua. (Jika kondisinya sama sepanjang gua, tidak perlu digunakan simbol, hanya catatan pada hasil). Pada gambar di bawah simbol-simbol yang disarankan dipergunakan untuk situasi yang paling sering terjadi; bentukan lain dapat dicatat dengan diskripsi dalam bentuk tulisan, atau jika sering muncul cukup dengan simbol rancangan surveyor sendiri. (Jika dirasa perlu untuk merancang simbol baru, surveyor sebaiknya konsultasi dengan orang yang lebih dahulu mengerjakan survey gua, misalnya Butcher (1962), untuk mengetahui jika mereka memiliki simbol yang dapat dipakai). Isyarat yang membantu surveyor agar membuat hasil yang rapi telah diberikan oleh Ford (1970). Hal ini penting, sebab pada kenyataannya penelusur tidak akan berpikir lebih jauh tentang kerapian penggambaran skets. Simbol yang disarankan digunakan dalam survey gua, menurut standar BCRA.

Elevation dan Section


Tampilan survey hanya dengan plan view tidaklah lengkap, seharusnya berisi Longitudinal elevation (elevasi memanjang) dan cross section (tampang melintang) yang baik. (Penamaan dari profil vertikal semacam ini telah hilang sama sekali, dan orang lebih senang untuk menyebut sebagai ‘true length elevation’. ‘longitudinal section’, ‘projected section’, dan seterusnya. Padanan tepat kata section adalah pandangan sepanjang bidang yang memotong melewati gua, sementara elevation adalah proyeksi pada bidang vertikal. Maka istilah ‘projected section’ demikian itu tidak benar dan istilah seharusnya digunakan adalah, didefiniskan di sini adalah: extended elevation, cross section, dan transverse section. Istilah umum dari dua hal pertama adalah longitudinal elevation, dan keempatnya adalah vertical profile). Longitudinal elevation yang mana adalah pandangan dari samping gua, dapat dalam satu dari dua bentuk, atau dua-duanya.

Dalam EXTENDED ELEVATION lorong gua direntangkan dan pandangan seolah dilihat dari samping dan digambar. Dengan demikian sebagai bagian yang menampilkan panjang sebenarnya dan kemiringan lorong, tetapi karena pemanjangan, posisi relatif antar lorong yang berbeda tidak dapat terlihat. PROJECTED ELEVATION adalah sama dengan Plan View, hanya saja bahwa gua dilihat dari satu sisi samping bukan dari atas. Lorong yang ditampilkan dalam posisi relatif yang sebenarnya, tetapi panjang dan kemiringannya dijalankan sepanjang garis proyeksi dan menjadi lebih pendek (kemiringan seolah lebih besar) seolah sudut bertambah sampai lorong pada sudut kanan sampai titik pandang tidak memilik panjang.

Surveyor harus memutuskan tipe yang mana yang menampilkan gua dengan bagus, dalam kasus projected elevation, adalah bidang terbagus yang digunakan. Ada beberapa perkecualian, biasanya extended elevation lebih disukai. Ini menampilkan panjang lorong sebenarnya, dimana tidak dapat ditampilkan dari tampak lain, dan posisi relatif lorong dapat diperoleh dari plan. Pada tampilan tertentu, projected elevation lebih bermanfaat untuk menggambarkan beberapa hal spesifik, seperti misalnya kontrol struktur dalam gua.

Extended section digambar menggunakan data jarak antar stasiun terhadap tinggi stasiun. Hal ini membutuhkan kertas yang lebih panjang daripada plan. Dan agar terdapat ruang yang dapat digunakan, mungkin surveyor membelokkan pada satu bagian, kembali menuju titik yang sesuai. Jika terdapat lorong yang tidak terlihat, hal ini tidak menjadi masalah apakah lorong digambar dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Panjang kertas yang diperlukan dapat dikurangi. Pembelokkan tersebut seharusnya pada titik dimana seminimal mungkin menghasilkan pandangan yang membingungkan. Apabila penggambaran satu lorong membalik terhadap yang lain, jarak di antara dua percabangan tidak akan sama panjang melewati dua rute; terkadang perbedaan panjang ini akan dapat diatasi dengan membelokkan bagian pada tempat-tempat yang tersedia.

Namun yang lebih sering terjadi, perbedaan tersebut diatasi dengan menghilangkan batas pada satu bagian lorong yang lebih pendek, lihat Gb13. Suatu saat, sebuah lorong dengan bentuk yang sama memiliki rute yang lebih panjang, dapat memungkinkan untuk menghilangkan satu bagian tersebut dari penggambaran agar loopnya dapat menutup. Tetapi yang manapun juga metode yang digunakan panjang lorong yang dihilangkan harus ditandai bahkan jika harganya nol. Pada situasi yang lebih komplek, dengan adanya lebih dari dua rute diantara dua percabangan, harus menggambar paling tidak satu junction pada lebih dari satu titik pada bagian dengan berurutan untuk memperoleh gambar yang dapat dimengerti. Sebuah sistem gua yang lebih komplek, lebih sulit untuk menggambar extended elevation yang gampang dilihat; kecermatan dan kecerdasan dibutuhkan untuk menghasilkan yang terbaik.

<img src="http://www.subterra.or.id/images/uploads/section.jpg" border="1" alt="image" width="500" height="580" />
Gambar: Plan view dan elevation dari lorong yang bertemu kembali
a). plan view b).projected elevation c). extended elevation

Posisi stasiun survey tidak akan terlihat pada penggambaran akhir
Jika bidang yang dipilih pada waktu penggambaran projected elevation adalah utara-selatan (atau timur-barat), maka koordinat northing (atau easting) tiap stasiun diplot berdasarkan elevasi stasiun. Jika digunakan bidang lain, surveyor menggunakan cara yang sama untuk mendapatkan tampilan peta gua yang lebih baik baru kemudian koordinat tiap stasiun dihitung. Hal ini berakibat bahwa easting dan northing tetap dihitung, tetapi sudut antar stasiun direlasikan pada bidang proyeksi selain grid utara. Arah sudut yang dimaksud, diperoleh dengan mengurangi arah grid utara bidang yang dipergunakan, dari arah utara grid stasiun per stasiun-jika perlu ditambahi 360º agar mendapatkan figure yang positif.

Northing baru kemudian dihitung untuk digunakan memplot elevasi. Bidang yang paling mungkin digunakan sebagai bidang proyeksi adalah bidang yang selalu paralel terhadap sebagian besar lorong utama; tetapi suatu saat dibutuhkan untuk menggambar lebih dari satu bidang projected elevetion atau mengubah bidang untuk bagian dari gua yang berbeda, agar menghasilkan hasil yang terbaik. Jika arah bidang berubah, maka pada titik dimana perubahan itu terjadi harus dibuat tanda sejelas mungkin. Pada extended elevation sebuah sistem gua yang komplek, lebih sulit untuk dapat menggambar projected elevation yang dapat dimengerti; sistem yang sangat komplek dari tipe gua yang menyesatkan tidak mungkin untuk ditampilkan dengan lengkap pada satu gambar.

Jika posisi stasiun telah diplot, menggunakan salah satu dari extended atau projected elevation, detail lorong dapat dicantumkan seperti pada plan. Kadang mencantumkan lagi detail yang sudah tertandai pada plan, tetapi jika memungkinkan lebih baik ditampilkan informasi lain pada elevation atau section. Satu hal untuk diingat saat mencantumkan detail pada projected elevation adalah bahwa panjang lorong hampir pasti mengalami pemendekan, dan jika bentukan dalam gua telah diukur jarak pastinya dari stasiun survey maka jarak ini harus dikurangi dengan besarnya proporsi yang sama pada antar stasiun. Cara yang termudah pekerjaan ini adalah dengan menggunakan koordinat buka jarak absolut; jika bentukan adalah dua-tiga dari jarak antar stasiun dalam gua, maka akan tetap menjadi dua-tiga jaraknya pada section.

CROSS SECTION lorong menampilkan bentuk lorong pada sudut yang sesuai dengan garis survey dan tergambar selang-seling. Gambar cross secion dibutuhkan untuk menggambarkan karakter dari lorong yang berubah dan untuk menampilkan bentuk lorong aslinya, sebab tampilan dalam bentuk plan dapat membingungkan pengguna peta. Cross section sebaiknya diberi nomor (tulisan dengan nomor) dan posisi serta arah pandangan pada peta tampak atas harus ditandai. Arah pandangan dari cross section sebaiknya konsisten, misalkan dilihat terhadap entrance gua atau dilihat tserhadap downstream. Pada sistem gua yang lebih komplek, gambar dengan satu atau lebih dari TRANSVERSE SECTION, dapat membantu pengguna peta menghubungkan satu bagian gua dengan bagian gua lain. Ini untuk menampilkan satu bagian gua dengan benar tergambar sepanjang bidang yang dapat digunakan. Jika bidang telah dipilih, maka dapat meneruskan pekerjaan lebih jauh lagi untuk mengukur detail-detail pada titik-titik dimana bidang memotong (atau memanjang) terhadap lorong.

Jika peta tampak atas, dan berbagai elevation, dan section telah digambar, maka hal ini sangat bermanfaat untuk dapat membuat rencana menyurvey kembali gua tersebut jika pelaksanaannya memang dibutuhkan lagi. Dengan membandingkan antara gua dengan gambar hasil survey, memungkinkan untuk mengecek detail gambar lorong, dan juga untuk mengecek kesalahan kasar pada gambar-sesuatu seperti misalnya tampilan kemiringan lorong naik padahal seharusnya turun, karena tanda telah berubah selama penghitungan. Pada kenyataannya, ada surveyor yang lebih menyukai untuk mengambil pengukuran detail yang minimum saat survey centre line dan kemudian kemudian mencantumkan semua detail langsung pada gambar diluar garis lintasan. Metode ini adalah langkah yang bagus, jika memiliki waktu dan jika posisi stasiun survey selalu ditandai.

Jika gambar telah siap dan telah diperiksa, garis-garis sebaiknya ditinta dengan pena yang baik. Pena yang runcing tidak dianjurkan untuk digunakan jika menggambar survey gua. Bentuk pena yang dipakai, yaitu adalah dengan tempat tinta yang tertutup (misal Rapidograph dan Faber Castell TG) lebih diutamakan. Yang biasanya digunakan adalah ketebalan dari 0,1 mm sampai 1,2 mm.

Master Copy


Langkah berikutnya adalah menyiapkan salinan (tracing) dari gambar asli yang nantinya menjadi master copy. Kertas minyak-kertas kalkir tidak dianjurkan sebab mudah sobek dan rusak jika basah oleh tinta. Dan juga mudah berubah dimensinya oleh perubahan iklim. Untuk itu dianjurkan bahwa tracing dibuat pada suatu bahan gambar plastik yang modern seperti misalnya Ethulon atau Permatrace. Beberapa kesulitan dengan bahan ini mungkin akan dialami saat pengalaman pertama tetapi kendala ini dapat diatasi dengan talk atau bahan yang sama untuk membantu penintaan. Sebelum pembuatan tracing dimulai, pikirkan untuk lay out dari gambar akhir. Lebih baik jika semuanya terletak pada satu lembar tapi tidak harus berarti memakai lembar terlalu besar atau terjadi gambarnya terlalu padat.

Lagipula, plan view sebaiknya hanya menjadi satu lembar, jika memungknkan, tetapi jika keadaan asli gua membuat tidak mungkin pada skala yang dipakai, maka dapat dibelah dan diagram kunci dicantumkan pada tampilan skala yang lebih kecil posisi relatif dari bagian yang terpisah. Sesudah lay out ditentukan, gambar asli dapat di-trace dengan ekstra hati-hati. Paling tidak ada dua ketebalan garis tinta yang digunakan, garis agak tebal untuk garis luar lorong, dengan garis bagian dalam mewakili batas dinding, dan garis yang lebih tipis untuk detail. Disarankan menggunakan ketebalan garis yang berbeda untuk tiap skala seperti yang ditunjukkan pada Tabel .

Ukuran tersebut masih akan terlihat apabila gambar diperkecil dengan skala setengah dari skala sebelumnya. Bagaimanapun juga jika diperkecil maka harus diperhitungkan benar tampilan dan kelayakan gambar turunannya. Garis grid patokan survey (true north), harus digambar pada tiap peta tampak atas. Lebar garis grid yang biasa dipakai, ditunjukkan pada Tabel . Untuk elevasi, aturannya adalah ditulis pada kelipatan tertentu, dicantumkan pada plan dan harus dihubungkan dengan elevasi ordnance datum; skala vertikal dalam satuan meter di bawah entrance dapat dicantumkan pada salah satu sisi jika diperlukan.

Tabel Ukuran pena yang direkomendasikan dan frekuensi garis grid.


SkalaKetebalan garis yang dapat dilihatInterval grid pada planJarak antar grid line
 outline lorongdetail  
1/501,2 mm0,4 mm2,5 m5 cm
1/100  5 m5 cm
1/2500,8 mm0,3 mm20 m8 cm
1/500  25 m5 cm
1/10000,6 mm(0,2 mm)50 m5cm
1/25000,3 mm 200 m8cm
1/5000 -250 m5cm


Langkah terakhir adalah mencantumkan tulisan. Kerapian, dalam hal ini bukanlah untuk mengubah keakuratan gambar, tetapi sebagai suatu faktor penting dalam menciptakan tampilan yang baik. Terkecuali untuk survey yang paling kasar, jangan pernah ada tulisan tangan, hal ini akan merusak tampilan. Ada beberapa jenis tulisan stensil yang digunakan, UNO mungkin adalah yang terbaik yang dikenal, dan tersedia agar dapat mendapatkan kerapian akhir; akan tetapi pertama kali perlu kertas potongan kecil-kecil untuk menggunakannya. Alternatif yang lebih baik adalah menggunakan huruf transfer (misal Letraset, Letterpress, dll).

Tetapi lebih baik jika menggunakan yang pertama. Lebih banyak tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran, akan tetapi lebih disukai jenis dengan ketebalan garis tiap hurufnya seragam seperti misalnya ‘Folio’ atau ‘Futura’. Baik bentuk yang medium atau yang tebal, penggunaannya tergantung kepada munculan gambarnya. Hal ini mendasar bahwa pencantuman tulisan dengan huruf transfer sangat mengkilap, dan bisa juga dilapisi dengan pernis, terutama jika gambar master akan digunakan untuk produksi copian dengan garis berwarna. Khusus pernis untuk tujuan tersebut, misalnya ‘Letracote’, dijual oleh pembuat huruf transfer kering. Semua tulisan harus ditempatkan diluar garis gambar gua. Pencantuman nama bentukan gua, dan catatan deskripsi, tiap survey harus mengandung informasi sebagai berikut:

1. Nama gua dan lokasinya
2. Referensi grid nasional (lebih baik jika delapan angka) atau bujur lintang (jika di seberang laut), dan ketinggian pintu gua
3. Grade dan klas survey berbasis BCRA
4. Nama surveyor dan drughtsman (penggambar), dengan tanggal survey
5. Referensi dimana detail survey pernah dipublikasikan (lihat dibawah)
6. Koordinat entrance pada plan grid jika tidak jelas
7. Arah grid, true dan magnetic north, dengan tanggal dan nama terakhir
8. skala survey
9. Arti simbol yang digunakan.


Item 1) sampai 6) dapat diletakkan dalam bentuk kotak judul dengan posisi yang disukai. Rapi dan terbacanya semua informasi, tanpa kesulitan mencari sesuatu dalam lembaran tersebut. Arah grid dan atau true north harus ditampilkan dan disatukan kedalam gambar grid diatas plan. Skala dicantumkan dengan hati-hati. Jika gambar diperkecil maka skala terakhir harus diselaraskan, dan hal ini berguna untuk mencantumkan catatan dari gambar asli. Batang skala harus selalu dicantumkan, dicontohkan penggunaannya pada Ordnance Survey, yaitu perkecilan dengan penggambaran dan untuk itu selalu tetap benar. Sampai pengukuran metrik dapat diterima penuh, batang skala dengan satuan unit Imperial sebaiknya juga dicantumkan.

Artikel Deskripsi


Tiap survey harus disertai dengan suatu artikel yang memberikan rincian lengkap mengenai pelaksanaan survey. Publikasinya mungkin secara periodik dalam satu club mungkin juga sebagai sebuah publikasi tersendiri. Tetapi jika muncul secara periodik, maka sebaiknya copian itu dimungkinkan untuk dapat dijual kepada orang yang tertarik. Detail yang diberikan dalam artikel ini berisi:

1. Mengapa survey dilakukan dan referensinya, perbandingan, dari survey yang terdahulu
2. Instrumen yang digunakan
3. Bagaimana penggunaan instrumen dan dikalibrasikan, dll
4. Detail dari kesalahan penutup dan pendistribusiannya, kemungkinan kesalahan, dll
5. Metode penghitungan koordinat stasiun dan ploting
6. Koordinat dan lokasi dari tanda permanen stasiun survey
7. Kemungkinan perolehan ijin copy hasil survey

Bab ini menguraikan secara menyeluruh mengenai metode konvensional pemotretan survey gua. Dengan beberapa sistem gua yang komplek, mungkin mendatangkan keuntungan bagi surveyor untuk melakukan eksperimen dengan metode lain misalnya gambar isometris dan model solid. Meskipun demikian subyek ini telah mendapatkan perhatian dari para surveyor gua, kecuali yang dikerjakan oleh Collins (1966). Dia juga menguraikan sesuai dengan disebut tujuan umum survey. Untuk aplikasi pengetahuan kriteria lain dapat digunakan, seperti halnya sebuah survey dasar diperlukan untuk mendapatkan sebuah rute dalam gua. Keakuratan tidak menjadi penting benar, tetapi informasi lebih detail dalam bentuk catatan, dll, untuk menolong penelusur menemukan jalan lebih dibutuhkan. Alasan bahwa tipe peta yang diperlukan masih terbatas, namun telah diatasi dengan apa yang telah dikerjakan oleh Collins (1970).
Quote this article in website Favoured Print Send to friend Related articles Save this to del.icio.us

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 

No comment posted

Add your comment



mXcomment 1.0.7 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement
Google
 

Masuk Gua

Chamber

1 tamu online